PENGARUH FILSAFAT PADA PSIKOLOGI

Filsafat sebagai ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia. Untuk menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin, semua ilmu membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Dengan demikian ilmu-ilmu khusus tidak menggarap pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut manusia sebagai keseluruhan, sebagai suatu kesatuan yang dinamis.
Dalam hal ini, peranan filsafat terhadap semua disiplin ilmu termasuk psikologi, hanya sebagai penggagas dan peletak dasar, dan selanjutnya ilmu-ilmu itulah yang berkembang sesuai dengan objek kajianya masing-masing.Seperti telah dikemukakan diatas, psikologi mempunyai hubungan antara lain dengan biologi, sosiologi, filsafat, ilmu pengetahuan, tetapi ini tidak berarti bahwa psikologi tidak mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain diluar ilmu-ilmu tersebut. Justru karena psikologi memilki mempelajari manusia sebagai makhluk bersegi banyak, makhluk yang bersifat kompleks maka psikologi harus bekerjasama dengan ilmu-ilmu lain. Tetapi sebaliknya setiap cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan manusia akan kurang sempurna bila tidak mengambil pelajaran dari psikologi. Dengan demikian, akan terdapat hubungan yang timbal balik.
Ilustrasi tentang perkembangan pengaruh filsafat pada perkembangan psikologi tampak dalam pengaruh aliran rationalisme dalam diri Descartes dan empirisme dengan tokohnya John Locke

A.Rationalisme Descartes
pengalaman dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Karenanya, aliran ini yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide, dan bukannya di dalam barang sesuatu. Jika kebenaran bermakna sebagai mempunyai ide yang sesuai dengan atau yang menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja.
Rasionalisme adalah sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi pengetahuan dan pembenaran. Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. Ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi.
Tokoh faham Rationalisme adalah Rene Descartes (1596-1650). Sumbangan Rene Descartes dalam Psikologi adalah menyangkut konsepsi tentang hubungan antara psikis dengan fisik. Teori sebelum Descartes menyatakan hubungan psikis dengan fisik bersifat searah. Artinya psikis mempengaruhi badan tetapi badan tidak mempengaruhi psikis. Tetapi menurut Descartes hubungan itu bersifat timbal balik (reciprocal) psikis mempengaruhi fisik, sebaliknya fisik juga mempengaruhi psikis.
Menurut Descartes, psikis itu hanya mempunyai satu fungsi yaitu berpikir, sedang fungsi-fungsi lain dijalankan oleh fisik. Dan sebagai seorang rasionalis, Descartes lebih menitik beratkan pada peran ratio
Rasionalisme mencapai puncaknya melalui dengan adagium Rene Descartes yang terkenal : Cogito, ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada). Ia beranggapan bahwa pengetahuan dihasilkan oleh indra. Tetapi karena indra itu tidak dapat meyakinkan, bahkan mungkin pula menyesatkan, maka indra tidak dapat diandalkan. Yang paling bisa diandalkan adalah diri sendiri. Dengan demikian, inti rasionalisme adalah bahwa pengetahuan yang dapat diandalkan bukan berasal dari pengalaman, melainkan dari pikiran.

B.Empirisme John Lock
Tokoh dari faham Empirisme adalah John Locke (1632-1740). Menurut John Locke manusia tidak dilengkapi pengetahuan apapun pada waktu dilahirkan. Pengetahuan itu diperoleh melalui pengalaman. Anak yang dilahirkan itu seperti tabularasa yaitu kertas putih bersih yang akan ditulisi oleh pengalaman.
Teori empirisme berasal dari pandangan �Tabularasa� John Locke yang merupakan konsep epistemologi yang terkenal Tabularasa (kertas catatan kosong), digambarkan sebagai keadaan jiwa. Jiwa itu laksana jiwa kertas kosong, tidak berisi apa-apa. Ia berisi sesuatu jika sudah mendapatkan pengalaman di dalam pengalaman itu kita dapatkan seluruh pengetahuan dan dari sanalah asal seluruh pengetahuan.
Dalam teori ini, John Locke menggunakan 3 istilah : Sensasi (sensation), yang oleh orang empiris modern sering disebut data inderawi (sense-data). Idea-idea (ideas), bukan idea dalam ajaran Plato, melainkan berupa persepsi atau pemikiran yang atau pengertian yang tiba-tiba tentang suatu objek dan sifat (quality) seperti merah, bulat, berat
Locke membedakan 2 macam pengalaman, yaitu pengalaman yang datang dari penginderaan (sensation), dan pengalaman yang datang dari refleksi (reflection). Pengertian yang datang dari penginderaan (dari sensory input) langsung berasal dari objek fisik yang datang dari lingkungan. Operasional dalam otak merupakan operasional atas dasar penginderaan. Dengan kata lain penginderaan merefleksikan pengertian. Fungsi kognitif merupakan refleksi dari pengertian yang tergantung pada pengalaman sensoris, pengalaman melalui pencaindera.

Daftar Pustaka:

http://meilanikasim.wordpress.com/2009/05/27/aliran-rasionalisme-descartes/

http://makalah-ibnu.blogspot.com/2009/10/empirisme-john-locke.html

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: