Batu

Daaan…
…..

Entahlah.. baru 4 tahun berpindah kota, banyak bentuk persepsi baru dan bebeda yang bermunculan dari hasil pengolahan pengalaman terdahulu. Terjangkit berbagai macam penyakit aneh dengan gejala labil, galau, tersesat, bodoh. Setelah merasa hampir sembuh, tenyata malah bertambah parah dengan munculnya gejala lain yang justru bertolak belakang dari gejala yang ada sebelumnya, sok jago, sok tabah, merasa paling benar dan pintar. Penyakit absurd ini sepertinya semakin sering kambuh dengan gejala sesi ke 2. Dampaknya? Saat berbicara dan berhadapan dengan orang lain tentang hal santai, fokus yang dipikirkan malah makanan dan uang. dan seketika mulai terseret kearah yang absurd lainnya..
Sedikit merenung dan terfikirkanlah batu *lho. (oke, disini mulai lompat dan ga nyambung)

Ya, batu. Benda keras (relatif), bestruktur abstrak (umum), dan kecil (pada kasus ini). Sering dipakai orang melempar kucing, anjing, maling. Dipakai amunisi ketapel untuk menembak burung dan memanen mangga. Diinjak, dtendang orang iseng, dilindas mobil ditengah jalan. Bahkan pada beberala kasus ekstrim, dimakan oleh burung, sapi, kambing atau hewan lainnya untuk membantu pencernaan mereka yang tentunya juga akan dikeluarkan dari “situ” berasama ampas lainnya.
Batu. Perjalanannya tidak kalah seru dan panjang jika dibandingkan dengan makhluk lain yang hidup dan bernyawa. Digunakan untuk hal hebat, hal konyol, mungkin pernah menyelamatkan nyawa, mungkin pernah membunuh, mungkin pernah melayang dan tenggelam. Tapi yah sayangnya batu itu benda mati, tidak berotak dan berhati. Kemungkinan yang bisa terjadi padanya, mungkin hanya hancur atau memfosil.

…….
Sehebat dan sepayah apapun kita, jangan sampai jadi batu.. (yaa mungkin maksudnya kerikil…)

Artificial Intelligence (AI)

AI

 

Arsitektur komputer dan Struktur Kognitif Manusia

Pengertian Arsitektur Komputer

Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, Arsitektur Komputer adalah konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistem komputer. Arsitektur komputer ini merupakan rencana cetak-biru dan deskripsi fungsional dari kebutuhan bagian perangkat keras yang didesain (kecepatan proses dan sistem interkoneksinya).

Arsitektur komputer juga dapat didefinisikan dan dikategorikan sebagai ilmu dan sekaligus seni mengenai cara interkoneksi komponen-komponen perangkat keras untuk dapat menciptakan sebuah komputer yang memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja, dan target biayanya.

Masih bersumber wikipedia juga, kognisi adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Proses yang dilakukan adalah memperoleh pengetahuan dan memanipulasi pengetahuan melalui aktivitas mengingat, menganalisis, memahami, menilai, menalar, membayangkan dan berbahasa. Kapasitas atau kemampuan kognisi biasa diartikan sebagai kecerdasan atau inteligensi. Bidang ilmu yang mempelajari kognisi beragam, di antaranya adalah psikologi, filsafat, komunikasi, neurosains, serta kecerdasan buatan. Kepercayaan/ pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat memengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya memengaruhi perilaku/ tindakan mereka terhadap sesuatu. mengubah pengetahuan seseorang akan sesuatu dipercaya dapat mengubah perilaku mereka.

 

Kaitan antara Struktur Manusia dan Arsitektur Komputer

Pada dasarnya struktur kognitif manusia memiliki cara kerja yang sama dengan komputer, yaitu Input (Pemasukkan informasi), Storage (Pemrosesan Informasi), dan Output (Pengeluaran Informasi).

Bagaimana manusia berfikir, menganalisa, memproses dalam pembuatan arsitektur komputer tentunya tidak luput dari upaya yang dilakukan oleh manusia. Begitu pula sebaliknya, struktur kognisi manusia pun terkadang membutuhkan bantuan arsitektur komputer dalam membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Jadi antara struktur kognisi manusia dengan arsitektur komputer cukup erat kaitannya karena saling membutuhkan dan saling mempengaruhi.

 

Kelebihan dan Kekurangan Arsitektur Komputer jika dibandingkan dengan Struktur Kognitif Manusia

Robert L. Solso, Otto H. Maclin, dan M. Kimberly Maclin (2007) menyatakan bahwa walaupun komputer memiliki banyak kelebihan, namun komputer juga memiliki banyak kekurangan dibandingkan dengan kognitif manusia, yaitu:
     Kelebihan:

  1. Pada umumnya komputer dapat melakukan operasi matematika dan logika dengan sangat cepat
  2. Komputer dapat menguji model-model kognitif dengan sumber daya ruang dan waktu yang lebih hemat
  3. Dalam waktu yang sama, komputer dapat melakukan ribuan simulasi dan menghasilkan ribuan data, dan lain-lain

Kelemahan:

  1. Komputer tidak memiliki emosi seperti manusia
  2. Komputer tidak dapat melakukan generalisasi
  3. Komputer tidak mampu memahami pola-pola yang kompleks
  4. Komputer tidak mampu membuat kesimpulan
  5. Manusia lebih unggul dalam mengenali wajah, dan lain-lain

Contoh kasus:
Menurut artikel ini Automatic Cooking Robot yang sedang dikembangkan oleh Shanghai Jiaotong University, Yangzhou University dan pengusaha (restoran) dari Shenzhen adalah sebuah robot yang bisa memasak sampai 600 jenis masakan cina. Bisa dibayangkan bila kita punya robot seperti ini, pastinya kami tidak akan pernah bosan untuk makan di rumah terus. Sayang tidak ada penjelasan bagaimana prosedurnya tetapi mungkin karena saking banyaknya, kita harus terlebih dahulu meletakkan bahan-bahannya haha. Sepertinya bukan hal tidak mungkin lagi kalau nantinya mau makan, kita cukup tekan tombol dan makanan segera tersedia.

Analisis saya pada contoh kasus diatas, memmang tekonogi hampir dapat membuat semua kegiatan manusia menjadi praktis, bahkan dalam halnya memasak. Namun perlu ditekankan sekali lagi pada kelemahan komputerisasi seperti dalam generalisasi dan pemahaman pada pola kompleks, dimana mungkin teknologi diatas dapat membuat suatu makanan, tapi tetap segala sesuatu mengenasi rasa dan komposisi makanan yang akan diolah diprogram oleh manusia.

Sumber          :

http://id.wikipedia.org/wiki/Informasi

http://id.wikipedia.org/wiki/Kognisi

http://unikdong.blogspot.com/2012/07/cooking-robot-bisa-memasak-600-jenis.html

Solso, R., Maclin, O. H., dan Maclin, M.K. Psikologi Kognitif. 2007. Jakarta: Erlangga

 

 

Sistem Informasi Psikologi

Wah udah lama banget udah lama gak nengok blog lagi, maklum kalo gak ad tugas ya gak nulis hahaha. Gak kerasa juga udah jadi mahasiswa tingkat akhir begini, dan diketemuin aja sama tugas nulis blog haha, yah apapun itu gak ada salahnya juga dikerjain sambil ngopi.

Lansung aja deh, tugas merangkap tulisan, semoga dapat bermanfaat..

TUGAS 1

Pengertian Sistem Informasi Psikologi

Kalo dari buku catatan pribadi, informasi itu data yang sudah diolah menjadi sesuatu yang lebih berguna dari hanya sekedar bentuk data. Data itu sendiri merupakan sumber informasi yang menggambarkan suatu kejadian atau fakta.

Sedangakan kalau definisi menurut Zulkifli (2005) informasi adalah data yang sudah diolah, dibentuk, atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu. Informasi adalah data yang sudah diolah dengan cara tertentu menjadi bentuk yang sesuai dengan keperluan penggunaan informasi bersangkutan.

Definisi sistem yang masih menurut Zulkifli (2005) juga, adalah himpunan sesuatu “benda” nyata atau abstrak yang terdiri dari bagian-bagian atau komponen-komponen yang saling berkaitan, berhubungan, berketergantungan, dan saling mendukung, yang secara keseluruhan bersatu dalam satu kesatuan untuk mencapai tujuan tertentu secara efisien dan efektif (Zulkifli, 2005).

Dan kalau yang bersumber dari Wikipedia, Sistem Informasi (SI) adalah kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemen.Dalam arti yang sangat luas, istilah sistem informasi yang sering digunakan merujuk kepada interaksi antara orang, proses algoritmik, data, dan teknologi. Dalam pengertian ini, istilah ini digunakan untuk merujuk tidak hanya pada penggunaan organisasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), tetapi juga untuk cara di mana orang berinteraksi dengan teknologi ini dalam mendukung proses bisnis

Sistem informasi adalah gabungan yang terorganisasi dari manusia, perangkat lunak, perangkat keras, jaringan komunikasi dan sumber data dalam mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam organisasi.

Sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.

Untuk Psikologi sendiri sendiri, dapat didefinisikan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia, baik sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya. Tingkah laku tersebut berupa tingkah laku yang tampak maupun tidak tampak, tingkah laku yang disadari maupun yang tidak disadari.

Jadi, dapat dikatakan sitem informasi psikologi merupakan suatu bentuk fasilitas psikologi berbasis teknologi, yang dapat dipergunakan untuk suatu kegiatan memperoleh data dalam mempelajari perilaku manusia dan proses mental.

Contoh kasus pada sistem informasi psikologi, dapat dilihat pada tes-tes psikologi berbasis online. Apabila kita sering menggunakan media jejaring sosial seperti facebook atau twitter, akan mudah dijumpai konten konten atau aplikasi yang berkaitan dengan psikologi seperti motivasi, dan tes-tes kepribadian. Tes psikologi dalam bentuk online seperti ini memang dapat diakui sangat praktis. Bahasannya sendiri pernah saya posting disini

Analisa saya, dengan muncul dan berkembangnya tes online seperti ini juga mempengaruhi dunia psikologi yang sudah ada sejak dulu. Jika biasanya kita yang harus bertemu dan bertatapan langsung dengan psikolog untuk bertanya dan berkonsultasi dengan masalah psikologis kita, sekarang ada suatu bentuk forum online yang menyediakan suatu sarana tanya jawab dengan ahli psikologi. dengan adanya tes dan bahasan psikologi secara online memang mepermudah kita, tetapi tetap akan lebih baik dan mendalam bila melakukan konsultasi dan tes secara langsung dengan psikolog.

 

sumber:

Zulkifli, A.M., 2005. Manajemen Sistem Informasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_informasi

http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi/

TERAPI EKSISTENSIAL-HUMANISTIK

TERAPI EKSISTENSIAL-HUMANISTIK

Pengantar

 

Terapi Eksistensial, terutama, berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab itu saling berkaitan. Pendekatan eksistensial humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang-orang dalam hubungan dengan sesamanya yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasinya bagi usaha membantu individu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.

 

Konsep-konsep Utama

Pandangan tentang sifat manusia

 

Psikologi eksistensial-humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu skap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu sistem teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Konsep-konsep utama dari pendekatan eksistensial yang membentuk landasan bagi praktek terapeutik.

 

Kesadaran Diri

Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.

 

Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan

Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran akan kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya.

 

 

 

Penciptaan Makna

Berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi, depersonalisasi, alineasi, keterasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualisasi diri, yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Jika tidak mampu mengaktualisasi diri, ia bisa menjadi “sakit”. Patologi dipandang sebagai kegagalan menggunakan kebebasan untuk mewujudkan pontensi-potensi seseorang.

 

Proses-proses Terapeutik

Tujuan-tujuan Terapeutik

 

Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaan secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.

Tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.

Terapi eksistensial juga bertujuan membantuklien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.

 

Fungsi dan Peran Terapis

Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam-dunia. Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orintasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:

Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.

Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.

Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.

Berorientasi pada pertumbuhan.

Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.

Mengakui bahwa putusan-ptusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tengan klien.

Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.

Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.

Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

 

Hubungan antara Terapis dan Klien

Hubungan terapeutik sangat penting bagi terapis eksistensial. Isi pertemuan terapi adalah pengalaman klien sekarang, bukan “masalah klien”. Hubungan terapeutik menghimbau agar terapis, melalui tingkah lakunya yang otentik dan terbuka, mengajak klien kepada keotentikan. Hubungan dengan orang lain dalam kehadiran yang otentik difokuskan kepada “di sini dan sekarang”. Masa lampau atau masa depan hanya penting bila waktunya berhubungan langsung (Gerald Corey.1988:61).

Pola hubungan :

Hubungan klien adalah hubungan kemanusiaan. Konselor berstatus sebagai                                                                           partner klien, setara dengan klien sehingga hubungannnya berada dalam situasi bebas tanpa tekanan.

Klien sebagai subjek bukan obyek yang dianalisis dan didiagnosis.

Konselor harus terbuka baik kepribadiannya dan tidak pura – pura.

 

 

Teknik-teknik dan Prosedur-prosedur Terapeutik

Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Proedur-prosedur terapeutik bisa dipungut dari beberapa pendekatan terapi lainnya. Metode-metode yang berasal dari terapi Gestalt dan analisis transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedurpsikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam pendekatan eksistensial-humanistik.

Rollo May (1953, 1958, 1961), seorang psikoanalisis Amerika yang diakui luas atas pengembangan psikoterapi eksistensial di Amerika, juga telah mengintegrasikan metodologi dan konsep-konsep psikoanalisis ke dalam psikoterapi eksestensial.

Pengalaman Klien Dalam Terapi eksistensial, klien mampu mengalami secara subjektif persepsi – persepsi tentang dunianya. Dia harus aktif dalam proses terapeutik, sebab dia harus memutuskan ketakutan-ketakutan, perasaan-perasaan berdosa, dan kecemasan – kecemasan apa yang akan dieksplorasikan. Melalui proses terapi, klien bisa mengeksplorasi alternatif-alternatif guna membuat pandangan -pandangannya menjadi riel.

Penerapan : Eksistensial Humanistik tepat sekali diterapkan pada anak remaja yang dikembangkan dalam lembaga pendidikan dan diperlukan untuk membentuk manusia yang mampu bertanggung jawab dalam mengambil keputusan.

 

Tema-tema dan Dalil-dalil Utama Eksistensial : Penerapan-penerapan pada praktek terapi

Dalil 1 : Kesadaran diri

Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari diri yang menjadikan dirinya mampu melampaui situasi sekarang dan membentuk basis bagi aktivitas-aktivitas berpikir dan memilih yang khas manusia. Kesadaran diri membedakan manusia dengan makhluk-makluk lain. Pada hakikatnya, semakin tinggi kesadaran diri seseorang, maka ia semakin hidup sebagai pribadi. Meningkatkan kesadaran berarti meningkatkan kesanggupan seseorang untuk mengalami hidup secara penuh sebagai manusia. Peningkatan kesadaran diri yang mencakup kesadaran atas alternatif-alternatif, motivasi-motivasi, factor-faktor yang membentuk pribadi, dan atas tujuan – tujuan pribadi, adalah tujuan segenap konseling.

Dalil 2 : Kebebasan dan tanggung jawab

Kebebasan adalah kesanggupan untuk meletakkan perkembangan di tangan sendiri dan untuk memilih di antara alternatif – alternatif. Pendekatan eksistensial meletakkan kebebasan, determinasi diri, keinginan dan putusan pada pusat keberadaan manusia. Tugas terapis adalah membantu kliennya dalam menemukan cara-cara klien sama sekali menghindari penerimaan kebebasannya, dan mendorong klien itu untuk belajar menanggung resiko atas keyakinannya terhadap akibat penggunaan kebebasannya.

Dalil 3 : Keterpusatan dari kebutuhan akan orang lain

Kita masing-masing memiliki kebutuhan yang kuat untuk menemukan suatu diri, yakni menemukan identitas pribadi kita. Kita membutuhkan hubungan dengan keberadaan-keberadaan yang lain. Kita harus memberikan diri kita kepada orang lain dan terlibat dengan mereka.

Keberanian untuk ada. Usaha menemukan inti dan belajar bagaimana hidup dari dalam memerlukan keberanian. Kita berjuang untuk menemukan, untuk menciptakan, dan untuk memelihara inti dari ada kita.

Pengalaman kesendirian. Bahwa kita memikul tanggung jawab atas pilihan-pilihan kita berikut hasil-hasilnya, bahwa komunikasi total dari individu yang satu dengan individu yang lainnya tidak pernah bisa dicapai, bahwa kita adalah individu-individu yang terpisah dari orang lain, dan bahwa kita adalah unik.

Pengalaman keberhubungan. Bahwa kita bergantung pada hubungan dengan orang lain untuk kemanusiaan kita, dan kita memiliki kebutuhan untuk menjadi orang yang berarti dalam dunia orang lain, yang mana kehadiran orang lain penting dalam dunia kita, dan kita memperbolehkan orang lain memiliki arti dalam dunia kita, maka kita mengalami keberhubungan yang bermakna.

Dalil 4 : Pencarian makna

Terapi eksistensial bisa menyediakan kerangka konseptual untuk membantu klien dalam usahanya mencari makna hidup. Manusia pada dasarnya selalu dalam pencarian makna dan identitas diri.

Masalah penyisihan nilai-nilai lama. Nilai – nilai tradisional (dan nilai – nilai yang dialihkan kepada seseorang) tanpa disertai penemuan nilai – nilai lain yang sesuai untuk menggantikannya.

Belajar untuk menemukan maknadalam hidup. Hidup tidak memiliki makna dengan sendirinya, manusialah yang harus menciptakan dan menemukan makna hidup itu. Tugas proses terapeutik adalah menghadapi masalah ketidakbermaknaan dan membantu klien dalam membuat makna dari dunia yang kacau.

Pandangan eksistensial tentang psikopatologi. Adanya konsep psikopatologi yang menyatakan  tentang dosa eksistensial yang timbul dari perasaan tidak lengkap atau dari kesadaran seseorang bahwa tindakan-tindakan dan pilihan-pilihannya tidak bisa menyatakan potensi-potensinya secara penuh sebagai  pribadi.

 

 

Dalil 5 : Kecemasan sebagai syarat hidup

Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia yang mana merupakan sesuatu yang patologis, sebab ia bisa menjadi suatu tenaga motivasional yang kuat untuk pertumbuhan.

Kecemasan sebagai sumber pertumbuhan. Kita mengalami kecemasan dengan meningkatnyakesadaran kita atas kebebasan dan atas konsekuensi-konsekuensi dari penerimaan ataupun penolakan kebebasan kita itu.

Pelarian dari kecemasan. Suatu fungsi dari penerimaan kita atas kesendirian dan, meskipun kita bisa menemukan hubungan yang bermakna dengan orang lain, kita pada dasarnya tetap sendirian.

Implikasi-implikasi konseling bagi kecemasan. Membantu klien untuk menyadari bahwa belajar menoleransi keberdwiartian dan ketidaktentuan serta belajar bagaimana hidup tanpa sandaran dapat merupakan fase yang penting dalam perjalanan dari hidup yang bergantung kepada menjadi pribadiyang lebih otonom.

Dalil 6 : Kesadaran atas kematian dan non ada

Para eksistensialis tidak memandang kematian secara negative, dan mengungkapkan bahwa hidup memiliki makna karena memiliki keterbatasan waktu. Karena kita bersifat lahiriah, bagaimanapun, kematian menjadi pendesak bagi kita agar menganggap hidup dengan serius. Ketakuatan terhadap kamatian membayangi mereka yang takut mengulurkan tangan dan benar – benar merangkul kehidupan.

Dalil 7 : Perjuangan untuk aktualisasi diri

Setiap orang memiliki dorongan bawaan untuk menjadi seorang pribadi, yakni mereka memiliki kecenderungan kearah pengembangan keunikan dan ketunggalan, penemuan identitas pribadi, dan perjuangan demi aktualisasi potensi – potensinya secara penuh. Jika seseorang mampu untuk mengaktualisasikan potensi-potensinya sebagai pribadi, maka ia akan mengalami kepuasan yang paling dalam yang bisa dicapai oleh manusia, sebab demikianlah alam mengharapkan mereka berbuat.

 

 

 

 

Sumber referensi:

 

Corey, Gerald. (2010). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung. PT. Refika Aditama.

 

Anonym. (2013). pendekatan-eksistensial-humanistik

Psikoterapi Minggu 1

1. Pengertian Psikoterapi

Secara etimologis, psikoterapi mempunyai arti “psyche” yang berarti jiwa dan “therapy” dari Bahasa Yunani yang berarti merawat atau mengasuh, jadi psikoterapi dapat diartikan sebagai perawatan terhadap aspek kejiwaan. Dalam Oxford English Dictionary perkataan “Psychotherapy” tidak tercantum tetapi ada perkataan “Psychotherapeutic” yang diartikan sebagai perawatan terhadap suatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. dengan demikian perawatan melalui teknik psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologi terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian

Sedangkan menurut Lewis Wolberg didalam bukunya yang berjudul The Technique Of Psychotherapy, psikoterapi adalah perawatan, secara psikologis, untuk masalah yang bersifat emosional dimana seseorang yang terlatuh sengaja menetapkan hubungan professional dengan pasien dengan tujuan untuk (1) menghilangkan, mengubah atau mengurangi symptom, (2) menjadi perantara pola perilaku yang terganggu, (3) menumbuhkan dan mengembangkan kepribadian positif.

2. Sebutkan dan Jelaskan Tujuan dari Psikoterapi

Ada beberapa Tujuan psikoterapi  menurut terapi pendekatan psikodinamik, menurut Ivey, et al (1987) adalah membuat sesuatu yang tidak sadar  menjadi sesuatu yang disadari. rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik.

Pendekatan psikoanalisis menurut Corey (1991) merumuskannya sebagai: sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual.

Pendekatan Rogerian, terpusat pada pribadi, menurut Ivey, et al (1987) perilaku yang lebih bisa menyesuaikan. arah bahan perilaku yang khusus ditentukan oleh klien

Tujuan terapi behavioristik menurut Ivey, et al (1987) menghilangkan cara berpikir yang menyalahkan diri sendiri, mengembangkan cara memandang lebih rasional dan tolerah terhadap diri sendiri dan orang lain.

Tujuan dengan metode dan teknik gestalt dirumuskan oleh Ivey, et al (1987) yakni : agar seseorang lebih menyadari mengenai kehidupannya dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seseorang

Tujuan terapi Gestalt menurut Corey (1991) yaitu membantu klien memperoleh pemahaman mengenai saat-saat dari pengalamannya.

3. Sebutkan dan Jelaskan Unsur Psikoterapi

Menurut messerman, dikatakan ada delapan “parameter pengaruh” dasar yang mencakup unsur-unsur yang lazim pada semua jenis psikoterapi yaitu :

  1. Peran sosial
  2. Hubungan
  3. Hak
  4. Retrospeksi
  5. Re-edukasi
  6. Rehabilitasi
  7. Resosialisasi
  8. Rekapitulasi

4. Sebutkan dan Jelaskan Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling

Menurut mowrer (dalam gunarsa) konseling berhubungan dengan usaha mengatasi klien yang mengalami gangguan kecemasan biasa (normal anxiety), sedangkan psikoterapi berusaha menyembuhkan klien atau pasien yang menderita neurosis-kecemasan (neurotic anxiety). Intinya adalah klien yang menjalani konseling tidak digolongkan sebagai penderita penyakit jiwa,tetapi dipandang sebagai seseorang yang mampu memilih tujuannya membuat keputusan dan secara umum bisa bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Konseling dipusatkan pada keadaan yang sekarang.

Menurut Hahhdan MacLean (dalamGunarsa), menjelaskan tujuan mengenai psikologi konseling menitik beratkan pada upaya pencegahan agar penyimpangan yang merusak dirinya tidak timbul. Sedangkan psikoterapi terlebih dahulu menangani penyimpangan yang merusak dan baru kemudian menangani usaha pencegahannya.

5. Pendekatan Psikoterapi terhadap Mental Illnes :

Menurut J.P. Chaplin  ada beberapa pendekatan psikoterapi terhadap mental illness, diantaranya:

  1. Biological : Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
  2. Psychological: meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
  3. Sosiological: meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
  4. Philosophic: kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

6. Bentuk- Bentuk Terapi

  1. Terapi psikoanalisis: teknik ini menekankan fungsi pemecahan masalah dari ego yg berlawanan dan agresif dari Id, serta teknik yang dilakukan dengan cara menggali permasalahan atau pengalaman dimasa lalu dan dorongan yang tidak disadari
  2. Terapi humanistik: teknik dengan pendekatan fenomologi kepribadian yang membantu individu menyadari diri sesungguhnya
  3. Person centered therapy: tekniknya terpusat pada pribadi dengan memberikan suasana aman, bebas agar klien mengeksplorasi dengan nyaman
  4. Logo terapi : Logoterapi (Frankl) : bentuk penyembuhan melalui penemuan-penemuan makna dan pengembangan makna hidup, lebih dikenal dengan therapy through meaning.
  5. Analisis Transaksional (Berne) : Teknik Analisis Transaksional dilakukan bahwa setiap transaksi dianalisis, klien nampaknya menggelakkan tanggung jawab yang diarahkan untuk mau menerima tanggung jawab pada dirinya sehingga klien dapat menyeimbangkan Egogramnya serta melakukan intsrospeksi terhadap “games” yang dijalaninya.
  6. Rational Emotive Therapy (Ellis) : tekniknya dengan melakukan disputing intervention (meragukan/ membantah) terhadap keyakinan dan pemikiran yang tidak rasional pada agar berubah pada keyakinan , pemikiran dan falsafah rasional yang baru , sehingga lahir perangkat perasaan yang baru, dengan demikian kita tidak akan merasa tertekan, melainkan kita akan merasakan segala sesuatu sesuai dengan situasi yang ada.
  7. Terapi perilaku (Behavior Therapy) : Teknik ini menggunakan prinsip belajar untuk memodifikasi perilaku individu
  8. Terapi kelompok (Group Therapy) dan Terapi keluarga (Family Therapy) : Teknik yang memberikan kesempatan bagi individu untuk menggali sikap dan perilakunya dalam interaksi dengan orang lain yang memiliki masalah serupa.u

Sumber:

Chaplin, J.P. (2006). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Gunarsa, Singgih. 2007. Konseling dan Terapi. PT BPK Gunung Mulia: Jakarta
Mcleod, John. 2010. Pengantar Konseling : Teori dan Studi Kasus.Kencana : Jakarta
Corsini, Raymond. Wedding, Dany. 2010. Current Psychotherapies. Cengage Learning: Califor

 

Universitas Gunadarma 2013

cheese..!

ImageDisaat kamu mengenal seseorang dengan sangat baik, terus berusaha agar wajahnya senantiasa memberikan senyuman.
Disaat semuanya terlihat benar dan seakan membaik.., disaat itu pula kamu tersadar akan sesuatu.
Sesuatu yang menyuarakan bahwa tidak semua senyuman itu jujur dari hatinya.
Tidak sepenuhnya tersenyum karena mu dan untuk matamu..

Berfikir, berfikir, berfikir
Dan kesadaranmu pun kembali,
Kearifan mu pun bangkit,
Hatimu yang bijak berteriak, “egois!”
Tersadar, itulah yang selama ini kamu perjuangkan. Keegoisan dalam hatimu.

Hal yang sulit saat memilih dan terasa menyebalkan saat memberikan pilihan ;
“Memilih yang tidak kamu sukai, dan mendengarkan jawaban yang tidak kamu inginkan”

Berbohong disini menjadi sesuatu yang dibenarkan, hanya untuk menyelamatkan kepalsuan dan membuat semua agar tidak terlihat egois.

Entahlah, terkadang kamu merasa saat hatimu kembali berteriak “keadilan!”, kamu tidak bisa berbuat banyak.
Yang kamu tahu sekarang bahwa senyum yang begitu membahagiakan itu, hanya untuk disimpan didalam kotak kaca diluar sana.
Yang hanya untuk dilihat tanpa kamu sentuh.

Sampai waktunya kamu mampu membuat kotak kaca yang lebih indah untuk menjaganya, dan membuat senyum itu kembali memilih untuk sesuatu yang lebih jujur.